Metamorphosis

Bagaimana jika saat bangun tidur tubuhmu berubah menjadi seekor serangga raksasa yang menakutkan? Itulah sepenggal kisah yang diangkat oleh penulis Franz Kafka dalam novelnya yang berjudul Metamorphosis ini.

Alkisah, ada seorang salesman di suatu perusahaan. Gregor Samsa namanya. Gregor adalah tulang punggung di keluarganya. Menjadi satu-satunya pencari nafkah.

Ayahnya bangkrut dalam bisnis dan sudah lama tak bekerja. Ibunya terkena asma akut, keluar rumahpun tak mampu. Grete, adik perempuannya masih remaja. Belum cukup umur untuk membantunya bekerja.

Gregor adalah seorang pekerja keras. Selama lima belas tahun bekerja, ia tak pernah membolos. Sekalipun.

Suatu hari, ia merasa sulit untuk bangun dari tempat tidur. Di hari itu pula, ia memecahkan rekor: tak masuk kerja untuk pertama kalinya. Sampai-sampai, kepala kepegawaian perusahaannya curiga. Ia lalu mendatangi rumahnya.

Sesampainya di rumah Gregor, kepala kepegawaian tersebut tak dapat langsung menemuinya. Bahkan, keluarganya sekalipun tak dapat masuk ke kamar Gregor. Dikunci dari dalam.

Setelah lama menunggu dan mengetuk pintu berkali-kali, akhirnya Gregor mau membuka pintu. Namun….

Gregor telah berubah. Ia tak seperti Gregor yang dulu lagi. Tubuhnya kini menjelma menjadi seekor serangga raksasa. Sangat menyeramkan.

Kepala kepegawaian yang tadinya ingin bertemu, tiba-tiba berubah pikiran. Ia mengambil langkah ke belakang. Pelan-pelan. Lalu pamit dan ngacir pergi dari rumah mereka.

Sejak saat itu, keluarga Gregor juga ketakutan menemuinya. Mereka membiarkan Gregor berada di kamarnya. Tanpa berbincang-bincang sedikitpun. Bahkan, Gregor merasa keberadaan dirinya kini tak dianggap lagi.

Bagaimanakah kehidupan Gregor dan keluarganya setelah ia berubah? Sanggupkah mereka menghadapi cobaan hidup yang berat itu?


Membaca novel Kafka, membuat saya berpikir ulang tentang kehidupan. Misalnya, apakah kita akan memperlakukan orang lain seperti peribahasa ‘habis manis sepah dibuang’?

Menurut saya, ritme buku ini cukup lambat. Mungkin karena lokasi jalan cerita hanya di dalam rumah saja. Meski begitu, penulis nampak lihai menggambarkan detail ceritanya.

Depok, 26 Januari 2020
Fauzan Bryantara