HTTP vs HTTPS

Mulai bulan Oktober 2018 mendatang, browser Google Chrome akan menandai website dengan http (tanpa s di belakangnya) sebagai not secure atau tidak aman.

Not secure (Gambar: Chromium Blog)

Untuk itu, malam ini saya mencoba mengubah blog ini dari http menjadi https (Hypertext Transfer Protocol Secure). Ada 2 opsi agar bisa jadi https, yaitu dengan cara membeli sertifikat (setiap hosting biasanya menjualnya) atau dengan memakai sertifikat gratisan.

Tentu, saya mencoba opsi terakhir terlebih dahulu. Untuk sertifikat gratis, bisa menggunakan Letsencrypt yang diinstal di shared hosting via SSH menggunakan PuTTY.

Sayang sekali, tadi gagal berkali-kali di langkah terakhir. Nah, karena hari sudah malam, maka saya mencoba cara lain dulu, memakai SSL for free. Cara ini lebih cepat karena bisa menghasilkan sertifikat keamanan secara langsung via website tadi dan hasilnya tinggal diupload melalui FTP. Hanya saja, kita perlu memperbaruinya setiap 3 bulan sekali.

Aman, Bos!

Untuk sementara, blog ini sudah diamankan menggunakan sertifikat tersebut. Lain waktu, coba ngoprek lagi via SSH.

Minggu, 24 Juni 2018

Pengalaman Membeli Buku Impor di Book Depository

Ketika masih merantau di Bandung, saya beberapa kali membeli buku impor di sebuah toko buku di daerah Setiabudi. Koleksinya cukup update dengan buku-buku keluaran baru. Namun, setelah memutuskan untuk pulang kembali ke kampung halaman, saya kesulitan mencari toko buku yang menjual buku-buku impor di daerah saya.

pengalaman membeli buku impor di bookdepository
Tampilan bookdepository.com – Maret 2018

Setelah mencari informasi, akhirnya saya mencoba untuk membeli buku impor secara online di Book Depository. Oh ya, ini bukan postingan iklan atau berbayar, hanya berdasar pengalaman saya berbelanja di sana.

1. Apa itu Book Depository?

Book Depository (bookdepository.com) adalah sebuah toko buku online yang berkantor pusat di London, Inggris. Didirikan oleh Andrew Crawford dan Stuart Felton pada tahun 2004, kemudian pada tahun 2011 dibeli oleh raksasa retail Amazon. Book Depository memiliki jutaan judul buku dan melayani pengiriman ke berbagai negara termasuk Indonesia.

2. Bagaimana cara beli dan pembayarannya?

Untuk membeli, cukup membuat akun di laman web mereka. Lalu pilih buku yang kita inginkan, kemudian masukkan alamat pengiriman ke alamat kita. Untuk pembayaran, bisa menggunakan kartu kredit, kartu debit, atau PayPal. Saya sendiri menggunakan kartu debit dari Jenius.

Jika kita mengakses dari Indonesia, harga buku yang ditampilkan akan otomatis dikonversi ke rupiah.

3. Berapa ongkos kirimnya?

Gratis, kita tidak dikenai ongkos kirim tambahan dari Book Depository. Begitu juga ketika kurir dari Pos Indonesia mengantarkan buku, saya tidak dikenai biaya tambahan apapun.

Pesanan pertama saya di Bookdepository.com
Pesanan pertama saya di Book Depository

4. Berapa lama sampai ke alamat kita?

Nah, karena biaya kirimnya gratis (seperti yang sudah dijelaskan di poin 3), maka pengiriman bisa mencapai 3-4 minggu. Saya sendiri pesan buku pada tanggal 09 Januari 2018 dan sampai pada tanggal 01 Februari 2018 (sekitar 23 hari).

5. Kelebihan dan kekurangan membeli di Book Depository

Kelebihan:

  • Judul buku ada banyak, sekitar 17 juta judul buku
  • Gratis ongkos kirim
  • Harga relatif lebih murah dibanding membeli langsung ke toko buku impor

Kekurangan

  • Pengiriman lama (karena gratis ongkir, bisa sampai 3-4 minggu)
  • Kita tidak bisa melacak buku kita sampai mana ketika dalam proses pengiriman. Selagi alamat yang kita cantumkan lengkap dan jelas, berdoa saja semoga selamat sampai tujuan

Itulah pengalaman saya dalam membeli buku impor di Book Depository. Intinya, membeli buku di Book Depository ini lebih murah dibandingkan membeli langsung ke toko buku impor, tetapi harus lebih sabar menanti datangnya buku pesanan kita.

Minggu, 11 Maret 2018

Ctrl+F5

Gambar: XKCD

Seperti slogan Pertamina, dimulai dari nol ya…

Rabu, 6 Desember 2017