Naikkan Gaji atau Turunkan Harga?

Di kelas Matematika Ekonomi III kemarin, dosen kami, Pak Wahyu Widayat berkelakar. “Kalau saya jadi presiden, yang bisa menjawab pertanyaan ini akan saya angkat menjadi menteri keuangan,” candanya.

“Mana yang akan Anda pilih, menaikkan gaji sebesar 10 persen atau menurunkan harga-harga barang sebesar 10 persen?” tanya beliau.

Foto: Rajiv Perera / Unsplash

Sebetulnya, sudah ada teman saya yang menjawab turunkan harga 10 persen. Namun, karena ia malu-malu, saya coba maju ke depan saja. Siapa tahu nanti betulan jadi menteri keuangan di depan kelas tiba-tiba bisa menjawab.

Mari kita bedah satu per satu.

Pertama-tama, kita definisikan masing-masing variabel. Misalkan kita mengkonsumsi dua barang, yaitu x1 dan x2. Harga barang x1 adalah pdan harga barang x2 adalah p2. Kemudian, gaji yang kita peroleh adalah sebesar m.

Kasus pertama: naikkan gaji sebesar 10 persen

Kendala anggaran dapat kita tulis sebagai:

p1x+ p2x= (1+0,1)m
p1x+ p2x= 1,1m

Kasus kedua: turunkan harga barang-barang sebesar 10 persen

Kendala anggaran dapat kita tulis sebagai:

(1-0,1)p1x+ (1-0,1)p2x= m
0,9p1x+ 0,9p2x= m
0,9(p1x+ p2x)= m
p1x+ p2x= m/0,9
p1x+ p2x= 1,11m

Dari dua persamaan di atas, tampak bahwa kita akan memilih kebijakan kedua, yaitu turunkan harga 10 persen. Hal ini dikarenakan dengan turunnya harga sebesar 10 persen, gaji kita sebesar m seakan-akan menjadi 1,11m. Sedangkan untuk kenaikan gaji 10 persen, gaji kita akan menjadi 1,1m saja.

Dengan menggunakan bobot harga p dan p yang sama pada kedua kasus, kita bisa memperoleh jumlah barang  x dan x yang lebih banyak pada kasus kedua.

Mungkin, lanjut Pak Wahyu, para mahasiswa yang menyampaikan Tritura pada tahun 1966 silam sudah jauh menghitung lebih dulu, karena salah satu tuntutannya berisi turunkan harga pangan, bukan gaji yang dinaikkan.

Begitu sebagian pelajaran yang kami peroleh di kuliah kemarin.

Rabu, 14 November 2018

Pengalaman Mengikuti Program Matrikulasi Magister Sains Ilmu Ekonomi FEB UGM

Gedung Program Magister Sains dan Doktor Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM

Saat tulisan ini dibuat, saya sudah berkuliah selama enam minggu di jalur reguler pada Program Studi Magister Sains Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Gadjah Mada (FEB UGM). Sebelumnya, saya mengikuti program matrikulasi selama satu semester pada bulan Februari hingga Mei 2018.

Mengapa ikut program matrikulasi terlebih dahulu?

Calon mahasiswa diwajibkan mengikuti program matrikulasi karena hal-hal berikut:

  1. Alih bidang (tidak linear dengan jurusan yang diambil pada jenjang pendidikan sebelumnya), atau
  2. Nilai TOEFL/AcEPT atau TPA/PAPs belum memenuhi syarat batas nilai.

Untuk poin 2, saya sudah memenuhi syarat. Namun, karena latar belakang pendidikan saya saat S1 adalah teknik, maka saya wajib mengikuti program matrikulasi ini.

Ada juga seorang kenalan saya yang berasal dari jurusan Ekonomi Islam yang semester ini mengambil matrikulasi. Ketika dalam tahap wawancara, ia diberitahu bahwa harus mengikuti matrikulasi karena ia hanya mempelajari Ekonomi Mikro dan Makro I, tidak sampai II.

Memang, berdasarkan keterangan di website mscdoctor.feb.ugm.ac.id, “alih bidang atau bukan akan diputuskan oleh Pengelola berdasarkan review transkrip kuliah S1.”

Peserta Perkuliahan

“Anda beruntung masuk di waktu yang tepat,” kata Prof. Catur Sugiyanto ketika memberi sambutan kepada para mahasiswa baru. Waktu itu, kami masuk di semester genap tahun ajaran 2017/2018. Singkat cerita, biasanya yang mendaftar pada semester genap jumlahnya lebih sedikit dibanding pendaftar pada semester gasal, sehingga lebih sedikit saingannya.

Waktu itu, mahasiswa yang mengikuti matrikulasi dari Program Studi Magister Sains Akuntansi ada 7 orang, Manajemen ada 11 orang, dan di program studi saya Ilmu Ekonomi hanya ada 3 orang. Ya, Anda tidak salah baca, tiga orang saja saudara-saudara. Sebetulnya waktu itu ada 4 orang di daftar hadir peserta kuliah, tetapi 1 orang lagi tidak pernah masuk sejak hari pertama perkuliahan.

Bisa dibayangkan bukan bagaimana jika di program studi saya ada salah satu yang tidak masuk kuliah? Nah, kalau yang masuk program matrikulasi di semester gasal sekarang jumlahnya lebih banyak, ada 13 orang kalau tidak salah.

Suasana Perkuliahan

Bagi saya yang latar belakangnya bukan Ilmu Ekonomi, masuk di program matrikulasi ini cukup membantu. Mata kuliah Ekonomi Mikro dan Ekonomi Makro memberikan bekal bagi saya untuk menghadapi kuliah kalau sudah masuk di program reguler nanti. (Daftar matakuliah yang diambil pada program matrikulasi bisa dilihat di tabel paling bawah pada tautan ini)

Memang, bagi sebagian orang mungkin merasa waktu matrikulasinya cukup lama, mengapa harus sampai satu semester? Apalagi buat yang pernah mengambil matakuliah ekonomi. Namun, buat saya, waktu selama satu semester tadi bisa memberi gambaran: apakah bakal lanjut atau disudahi sampai matrikulasi saja belajarnya. Akhirnya, karena saya bisa belajar banyak hal baru dan menurut saya Ilmu Ekonomi itu menarik, saya memilih pilihan pertama.

Lalu, bagaimana dengan tugas dan tingkat kesulitan matakuliah di program matrikulasi dibandingkan dengan program reguler? Menurut saya, di program matrikulasi masih dibilang lebih santai. Tugas masih jarang. Kalaupun ada, belum sebanyak di program reguler yang hampir tiap minggu ada dari masing-masing dosen matakuliah.

Hasil Matrikulasi

Alhamdulillah, setelah satu semester mengikuti matrikulasi, akhirnya saya dinyatakan lulus dan masuk ke program reguler. Mahasiswa dinyatakan lulus matrikulasi jika hadir perkuliahan tatap muka minimal 75% dan telah mengikuti UTS dan UAS, IPK matrikulasi minimal 3.00, dan juga telah memenuhi skor nilai TOEFL/AcEPT atau TPA/PAPs seperti yang sudah ditulis di atas.

Sekian pengalaman saya dalam mengikuti program matrikulasi Magister Sains Ilmu Ekonomi di FEB UGM.

Hari kedua penyambutan mahasiswa baru (baik matrikulasi maupun reguler) Program Magister Sains dan Doktor FEB UGM Semester Gasal 2018/2019, Kamis, 09 Agustus 2018. Tebak, saya di sebelah mana? [Foto: mscdoctor.feb.ugm.ac.id]

Minggu, 23 September 2018

HTTP vs HTTPS

Mulai bulan Oktober 2018 mendatang, browser Google Chrome akan menandai website dengan http (tanpa s di belakangnya) sebagai not secure atau tidak aman.

Not secure (Gambar: Chromium Blog)

Untuk itu, malam ini saya mencoba mengubah blog ini dari http menjadi https (Hypertext Transfer Protocol Secure). Ada 2 opsi agar bisa jadi https, yaitu dengan cara membeli sertifikat (setiap hosting biasanya menjualnya) atau dengan memakai sertifikat gratisan.

Tentu, saya mencoba opsi terakhir terlebih dahulu. Untuk sertifikat gratis, bisa menggunakan Letsencrypt yang diinstal di shared hosting via SSH menggunakan PuTTY.

Sayang sekali, tadi gagal berkali-kali di langkah terakhir. Nah, karena hari sudah malam, maka saya mencoba cara lain dulu, memakai SSL for free. Cara ini lebih cepat karena bisa menghasilkan sertifikat keamanan secara langsung via website tadi dan hasilnya tinggal diupload melalui FTP. Hanya saja, kita perlu memperbaruinya setiap 3 bulan sekali.

Aman, Bos!

Untuk sementara, blog ini sudah diamankan menggunakan sertifikat tersebut. Lain waktu, coba ngoprek lagi via SSH.

Minggu, 24 Juni 2018

Pengalaman Membeli Buku Impor di Book Depository

Ketika masih merantau di Bandung, saya beberapa kali membeli buku impor di sebuah toko buku di daerah Setiabudi. Koleksinya cukup update dengan buku-buku keluaran baru. Namun, setelah memutuskan untuk pulang kembali ke kampung halaman, saya kesulitan mencari toko buku yang menjual buku-buku impor di daerah saya.

pengalaman membeli buku impor di bookdepository
Tampilan bookdepository.com – Maret 2018

Setelah mencari informasi, akhirnya saya mencoba untuk membeli buku impor secara online di Book Depository. Oh ya, ini bukan postingan iklan atau berbayar, hanya berdasar pengalaman saya berbelanja di sana.

1. Apa itu Book Depository?

Book Depository (bookdepository.com) adalah sebuah toko buku online yang berkantor pusat di London, Inggris. Didirikan oleh Andrew Crawford dan Stuart Felton pada tahun 2004, kemudian pada tahun 2011 dibeli oleh raksasa retail Amazon. Book Depository memiliki jutaan judul buku dan melayani pengiriman ke berbagai negara termasuk Indonesia.

2. Bagaimana cara beli dan pembayarannya?

Untuk membeli, cukup membuat akun di laman web mereka. Lalu pilih buku yang kita inginkan, kemudian masukkan alamat pengiriman ke alamat kita. Untuk pembayaran, bisa menggunakan kartu kredit, kartu debit, atau PayPal. Saya sendiri menggunakan kartu debit dari Jenius.

Jika kita mengakses dari Indonesia, harga buku yang ditampilkan akan otomatis dikonversi ke rupiah.

3. Berapa ongkos kirimnya?

Gratis, kita tidak dikenai ongkos kirim tambahan dari Book Depository. Begitu juga ketika kurir dari Pos Indonesia mengantarkan buku, saya tidak dikenai biaya tambahan apapun.

Pesanan pertama saya di Bookdepository.com
Pesanan pertama saya di Book Depository

4. Berapa lama sampai ke alamat kita?

Nah, karena biaya kirimnya gratis (seperti yang sudah dijelaskan di poin 3), maka pengiriman bisa mencapai 3-4 minggu. Saya sendiri pesan buku pada tanggal 09 Januari 2018 dan sampai pada tanggal 01 Februari 2018 (sekitar 23 hari).

5. Kelebihan dan kekurangan membeli di Book Depository

Kelebihan:

  • Judul buku ada banyak, sekitar 17 juta judul buku
  • Gratis ongkos kirim
  • Harga relatif lebih murah dibanding membeli langsung ke toko buku impor

Kekurangan

  • Pengiriman lama (karena gratis ongkir, bisa sampai 3-4 minggu)
  • Kita tidak bisa melacak buku kita sampai mana ketika dalam proses pengiriman. Selagi alamat yang kita cantumkan lengkap dan jelas, berdoa saja semoga selamat sampai tujuan

Itulah pengalaman saya dalam membeli buku impor di Book Depository. Intinya, membeli buku di Book Depository ini lebih murah dibandingkan membeli langsung ke toko buku impor, tetapi harus lebih sabar menanti datangnya buku pesanan kita.

Minggu, 11 Maret 2018

Ctrl+F5

Gambar: XKCD

Seperti slogan Pertamina, dimulai dari nol ya…

Rabu, 6 Desember 2017