Refleksi: Setahun Berbisnis

GUYURAN hujan selepas isya membuat warung Baso Barokah di daerah Cisitu Indah itu tak seramai biasanya. Meski jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam, tetapi orang yang kuajak bertemu di warung ini masih belum menampakkan diri.

Untung saja, sebelum aku mati gaya, ia akhirnya datang juga. Meski sudah memakai payung berukuran besar, baju putih dengan corak batik biru yang dikenakannya terlihat agak basah kehujanan. Tak kusangka, ia tetap menyempatkan datang memenuhi permintaanku walaupun hujan turun dengan derasnya.

Namanya Nur Hatta Krisna Tri Aditya. Aku memanggilnya Mas Kresna. Kebetulan, ia adalah senior sejurusan di kampusku dulu, setelah itu, ia melanjutkan ke jenjang MBA di kampus yang sama.

“Kapan-kapan, aku bisa konsultasi bisnis ya?” tanyaku beberapa hari sebelum kami bertemu. “…tapi kalau dalam waktu dekat, sepertinya aku masih malu. Masih jualan, belum bisnis (betulan),” ungkapku.

“Hahaha, santai aja. Kewirausahaan bukan apa yang dijual. Tapi lebih ke mindset, koq,” balas Mas Kresna dalam chatnya. “Justru mumpung masih cari pola, nanti bisa dicari dan ketemu mana pola yang kamu cocok,” katanya menambahkan. “Ngga ada yang terlalu cepat atau telat buat belajar,” pungkasnya dalam chat itu.

“Ngga ada yang terlalu cepat atau telat buat belajar,”
—Nur Hatta Krisna Tri Aditya

Selasa, 19 Juli 2016, akhirnya aku berkonsultasi dengan Mas Kresna. Malam itu, kami ngobrol banyak hal. Mulai dari mengapa ia pindah kembali ke Bandung setelah berbisnis di Jakarta, tentang bisnis jamu tradisional yang ia kemas menjadi kekinian, juga tentang bisnis paruh waktuku yang saat itu masih berusia dua bulan.

Meski saat itu aku masih bekerja sebagai electrical engineer di salah satu konsultan teknik di Kota Bandung di siang hari, pada malam harinya aku seringkali begadang untuk menjalankan bisnis bersama dengan temanku, Lukman Hardy.

“Kira-kira, perlu tabungan berapa ya Mas kalau mau memutuskan untuk resign dan fokus bisnis?” tanyaku iseng pada Mas Kresna. “Tergantung orangnya,” kata beliau. “Kalau masih single, tabungan untuk mencukupi kebutuhan selama 6 bulan (tanpa pemasukan lain) sudah cukup,” jawabnya dengan raut muka yang mulai serius. “Kalau sudah berkeluarga, perlu tabungan untuk sekitar 12 bulan,” ia menambahkan.

Tak terasa malam mulai larut. Akang-akang warung Baso Barokah sudah mulai membereskan kursi-kursi warungnya — ditata berjejer terbalik di atas meja. Aku melihat sekeliling, ternyata tinggal kami berdua pengunjung di warung ini. Setelah membayar pesanan masing-masing, kamipun saling berpamitan. Maturnuwun, Mas!

Hari itu akhirnya datang juga. Setelah istikharah, aku meminta izin kepada kedua orangtua untuk resign dari pekerjaan. Sebetulnya, dari percakapan kami, nampak rasa khawatir dari beliau berdua. Namun, akhirnya mereka menyetujui keputusanku itu — setelah kujelaskan mengenai progres bisnisku dan tabungan yang kuanggap cukup untuk sekadar bertahan hidup selama beberapa bulan.

“Semoga yg terbaik, ibu selalu mendoakan kesuksesan… dapat rejeki yang barokah,” kata ibuku tentang rancanaku untuk resign dan fokus berbisnis. “Semoga Allah memberi kesuksesan dan rejeki yang cukup serta rejeki yang barokah,” tambah ayahku lewat pesan WhatsApp pagi itu — merestui jalan yang akan kuambil.

Aku kemudian bersiap-siap untuk berangkat ke kantorku di daerah Cigadung, siangnya aku menghadap atasanku. Beliau ingin aku untuk bertahan beberapa minggu lagi, tetapi setelah aku nego karena proyek yang aku bantu tangani sudah selesai tahap desain, aku diperbolehkan resign seminggu setelah hari itu.

Setelah bekerja 9 bulan lebih 5 hari bekerja di kantor tersebut, 24 Agustus 2016 menjadi hari terakhirku berada di sana.

Kangen juga sama meja kantor ini

Salah satu kesalahan pebisnis pemula adalah seringkali tergesa-gesa dan tidak sabar. Setelah beberapa bulan sebelumnya kami hanya menjadi dropshipper1 dan memasarkan produk melalui internet — selepas aku resign dan sudah fulltime bisnis — Lukman dan aku terburu-buru ingin naik tingkat menjadi reseller2 produk yang kami pasarkan. Grusa-grusu, kalau dalam Bahasa Jawa.

Akhirnya kami menyadari, menjadi reseller perlu usaha yang lebih dari sekadar dropshipper. Perlu manajemen stok yang baik, perlu mengemas barang sendiri, kirim ke kurir sendiri. Belum lagi bolak-balik ke supplier dengan kondisi Bandung yang macet di sore hari. Selain itu, perlu memikirkan juga stok barang yang belum laku atau dead stock, padahal waktu itu untuk makan sehari-hari sudah pas-pasan.

Untungnya, pekerjaan kami untuk menerima pesanan dari customer sudah dapat didelegasikan ke customer service (CS) yang kami rekrut. Meski sebetulnya ia juga bekerja sambilan di tempat lain (menjadi guru les) dan dapat bekerja dari rumah, beban kami terasa cukup berkurang.

Di kemudian hari, kami cukup menyesal. Seharusnya kami merekrut CS yang bisa full time menjawab pertanyaan dari pelanggan, apalagi masih ada tipe pelanggan yang tidak cukup sabar apabila tidak dijawab dalam hitungan menit. Tak henti-hentinya pelanggan tipe tersebut sering meneror terus, hehe.

Akhirnya, setelah CS kami terlihat semakin sibuk dengan pekerjaannya di tempat lain, kami memutuskan merekrut CS yang lebih fokus. Alhamdulillah, customer jadi lebih cepat mendapat jawaban tentang produk kami.

Kami sadar, meski sudah banyak pembeli yang melek dengan cara beli langsung di website, masih banyak pembeli yang suka belanja lewat chat (WhatsApp, Line@, Facebook, dan BBM) dan ingin dijawab sesegera mungkin.

Maka dari itu, kecepatan CS dalam menjawab sudah tak bisa dikompromikan lagi, agar customer merasa puas dengan pelayanan kami — sembari perlahan-lahan mempersiapkan sistem pembelian di website yang lebih user friendly.

Pernah juga kami mencoba produksi sendiri, mulai dari cari bahan, cari penjahit, hingga foto produk sendiri. Kami terlalu bersemangat meski sumber daya terbatas. Akhirnya setelah diskusi dan merenung karena penjualan produk sendiri tak begitu memuaskan, kami memutuskan untuk fokus pada kekuatan utama kami, bukan di bagian produksi, melainkan internet marketing.

Kata orang, kita perlu tahu di mana kekuatan utama kita, tak harus semuanya kita kerjakan sendiri. Hingga saat ini, kami fokus memasarkan produk milik orang lain. Tak lagi dipusingkan dengan produksi, manajemen stok, hingga pengiriman barang. Namun jika lancar dan sudah melewati capaian target tertentu, kami punya mimpi suatu saat nanti akan membuat brand sendiri.

Produksi pertama kami: pashmina! Waktu itu dijahit oleh ibu-ibu di Balubur Town Square.

Oh iya, ini rahasia kita ya. Produk yang kami jual awalnya adalah kerudung. Pernah suatu hari ada customer yang bertanya ke Lukman (waktu itu CS masih dipegang Lukman), “Sis, itu pad3 kerudungnya sampai ke pipi nggak?”.

Lukman yang sedang ada perlu ke luar kosan4 lalu menanyakan hal ini padaku yang sedang berada di kos. Sambil lihat kanan-kiri, padahal nggak ada orang di kosan, aku lalu mencoba stok kerudung yang ada di kosan. Setelah mencobanya dengan tangan dan kepalaku sendiri, kusampaikan bahwa pad kerudungnya sampai ke pipi. Unch.

Meski menjual produk yang tidak kami berdua gunakan sendiri dalam kehidupan sehari-hari, kami dituntut untuk memahami tentang produk yang dijual. Apa bahannya, apakah licin atau panas dipakai. Apakah pinggirannya dirawis atau dijahit, dan sebagainya. Mana produk yang laris, mana produk yang tidak laris. Mana yang cocok untuk ibu-ibu, serta mana juga yang cocok untuk untuk yang masih muda.

Seringkali Lukman bertanya tentang kerudung pada ibu atau teman-temannya yang perempuan. Kalau aku lebih ke ibu, adik, atau internet karena agak malu kalau bertanya ke temanku yang perempuan. Lukman dan aku memang memiliki beberapa sifat dan skill yang berbeda. Terutama soal skill mengobrol dengan wanita, hehe.

Mungkin karena beberapa sifat yang berbeda itulah kami saling melengkapi dalam berbagai hal — dan terus bertahan hingga setahun keberjalanan bisnis kami. Lukman yang lebih generalis, aku yang lebih ke detail. Lukman lebih jago di bidang internet marketing, aku lebih jago — eh maksudnya lebih dulu belajar — dalam ngoprek website, dan hal-hal lainnya yang tak dapat kusebutkan di sini.

Gambar: Lukman (kiri-berdiri) dan aku (kanan-duduk) saat masih baru berdua di kantor kontrakan kami.

Selain itu, kami selalu bertukar pikiran dan saling menyemangati ketika bisnis belum berjalan sesuai harapan. Pernah kami berdua mendapatkan bagi hasil yang nominalnya lebih kecil dibanding gaji karyawan (CS) kami, Lukman sering berbesar hati, “yang penting biaya operasional dan karyawan kita sudah ketutup lebih dulu.”

Betul juga, setelah setahun full time di bisnis ini, kini kami tak boleh hanya memikirkan bagian kami berdua. Namun juga harus memikirkan tiga orang karyawan yang sekarang menjadi tanggungan kami. Seperti yang Lukman bilang dalam beberapa diskusi, “yang penting kita tetap terus bersyukur.”

Oh Lukman, ingin rasanya aku bilang ke produser acara televisi: agar dirimu menggantikan acara Golden Ways yang sudah tak tayang lagi.

1 Menjual barang tanpa barang tersebut ada di kita, biasanya dropshipper memesan ke pemilik barang untuk mengirimkan pesanan tersebut ke alamat konsumen secara langsung, tanpa melalui dropshipper terlebih dahulu.

2 Menjual kembali barang yang sudah dibeli.

3 Seperti busa pada bagian atas-depan kerudung, fungsinya untuk membentuk kerudung agar kelihatan lebih rapi.

4 Awalnya kami menjalankan bisnis & menyimpan stok barang di kamar kosan. Baru mulai Mei 2017, kami mengontrak sebuah rumah kecil.

Temanggung,



Kategori: #Perjalanan Hidup